Cara Sederhana tapi Berdampak, Sampah Dapur Disulap Menjadi Manfaat MADIUN – Sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Hampir setiap hari, dapur rumah tangga menghasilkan limbah. Mulai dari kulit bawang, cangkang telur, sisa sayuran hingga air cucian beras. Sebagian besar langsung berakhir di tempat sampah. Padahal, upaya menguranginya tak selalu harus mengandalkan teknologi yang rumit dan canggih. Justru, langkah sederhana bisa dimulai dari dapur rumah tangga. Dengan memilah dan mengolahnya sejak dari sumber, limbah-limbah yang selama ini dianggap tak bernilai ternyata masih menyimpan banyak manfaat. Di RW 5 Kelurahan Rejomulyo, Kota Madiun, sampah dapur tak lagi berakhir di tempat pembuangan. Warga yang tergabung dalam Kelompok Pekarangan Pangan Lestari (P2L) Limolasan Berseri mengubah kebiasaan memilah sampah menjadi gerakan sederhana yang berdampak besar. Limbah dapur yang sebelumnya dianggap tak bernilai kini diolah menjadi pupuk untuk menyuburkan tanaman, sekaligus mendukung budidaya ikan sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan di lingkungan mereka. Ketua Proklim RW 5 Kelurahan Rejomulyo, Setyono, mengatakan hampir seluruh limbah organik rumah tangga dapat dimanfaatkan kembali. Kuncinya adalah kemauan untuk memilah sampah sejak dari sumbernya. “Yang kami lakukan sebenarnya sederhana. Yang penting mau memilah sampah dari rumah. Kalau ada kemauan pasti bisa. Sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata bisa kembali bermanfaat untuk tanaman dan lingkungan,” ujarnya, Selasa (28/7). Salah satunya adalah air cucian beras. Air yang biasanya langsung dibuang itu difermentasi dengan tambahan EM4 dan molase atau tetes tebu hingga menjadi pupuk organik cair (POC). Pupuk tersebut kemudian digunakan untuk menyuburkan berbagai tanaman yang ditanam warga.

Sumber: Akun Instagram @madiuntoday tanggal 28 Juli 2026